Prediksi Kuliner 2026: Selamat Tinggal Makanan Ribet, Halo 'Mindful Snacking'!

Yo, Tetangga! Sadar nggak sih, era makanan viral yang penuh gimmick dan ribet mulai ditinggalin? Gue perhatiin, di tahun 2026 ini, arah angin kuliner berubah total. Kita nggak lagi cari makanan yang cuma bagus di kamera, tapi kosong rasanya. Kita cari yang real, yang sustainable, dan yang bikin hati tenang pas dimakan. Yuk, ngobrol bentar soal prediksi tren “Mindful Snacking”—kenapa camilan plant-based bakal jadi raja tahun ini, dan kenapa kesederhanaan adalah kemewahan baru. 

Yo, Tetangga! 🍂

Apa kabar selera makan lo hari ini?

Gue sempet bengong sore-sore sambil scrolling medsos. Gue sadar satu hal: tren makanan beberapa tahun ke belakang itu… berisik banget, ya?

Makanan dikasih warna neon, ditumpuk topping setinggi gunung, sampai cara makannya aja ribet minta ampun. Semuanya demi konten, demi FYP. Jujur, capek nggak sih ngeliatnya? Gue sih capek.

Dan kayaknya, semesta juga setuju.

Masuk 2026, gue ngerasain shift yang kuat banget. Vibe-nya berubah. Kita mulai ninggalin era “Makanan Ribet” dan masuk ke era “Mindful Snacking”.

Ini bukan cuma tebak-tebakan, tapi ini yang gue liat dari kacamata budaya dan lifestyle. Ini alasan kenapa tahun ini camilan lo bakal berubah:

1. Sustainable is the New “Cool”

Dulu, keren itu kalau makan di tempat mahal. Sekarang? Keren itu kalau lo tau apa yang lo makan dan dampaknya buat Bumi.

Anak-anak muda sekarang (Gen Z dan Alpha) itu kritis, Bro. Mereka nggak mau support produk yang ngerusak lingkungan. Makanya, camilan Plant-Based kayak tempe bakal makin naik panggung.

Bukan karena terpaksa diet, tapi karena kesadaran. Makan tempe itu jejak karbonnya rendah, tapi rasanya legend. It’s eating good while doing good. Dan buat gue, itu sexy banget.

2. Back to Basics (Anti Gimmick)

Kita udah bosen sama rasa artifisial. Lidah kita kangen sama rasa yang “jujur”. Tahun 2026 adalah tahunnya bahan-bahan asli. Jagung ya rasa jagung, kedelai ya rasa kedelai. Nggak perlu dibalut tepung tebal atau saus banjir.

Kesederhanaan (simplicity) adalah kemewahan baru. Makanan yang diproses minimalis itu punya “soul”. Rasanya otentik, nggak nipu.

3. Snacking as a Ritual

Ini poin paling penting: Mindful Snacking. Ngemil bukan lagi aktivitas “sambil lalu” pas lagi stres atau buru-buru. Ngemil jadi momen jeda.

Lo duduk, buka kemasan, cium aromanya, dan kunyah pelan-pelan. Lo menghargai teksturnya, bumbunya, dan proses pembuatannya. Ini sejalan banget sama gerakan slow living. Kualitas di atas kuantitas.

Eatenak: Ahead of The Curve

Gue seneng banget karena Eatenak udah ada di jalur ini dari dulu, sebelum jadi tren.

Di saat yang lain sibuk bikin rasa aneh-aneh, Eatenak tetap setia sama Tempe—warisan kuliner kita yang humble tapi powerful.

Khususnya varian Jagung Bakar. Ini definisi mindful snacking buat gue. Terbuat dari tempe asli (plant-based), bumbunya smoky dan manis alami, tanpa ribet. Pas lo makan, vibes-nya langsung ke-unlock: kayak lagi bakar jagung di api unggun, santai, dan hangat.

Nggak perlu gimmick buat jadi enak.

Penutup

Jadi Tetangga, prediksi gue buat 2026: Less is More. Kurangi makanan ribet, perbanyak makanan yang punya nilai. Pilih camilan yang bikin badan lo sehat dan Bumi juga ikut senyum.

Selamat datang di era baru. Mari makan dengan lebih sadar.

Cheers, Sena

Cart (0)

  • Your cart is empty.
Cart (0)
  • Your cart is empty.